Hi readers! Kali ini admin ga posting sinopsis atau review novel/film, tapi admin kali ini mau cerita sesuatu. Yap, admin mau curcol tipis-tipis haha.

Oke, jadi singkat cerita, hari Sabtu, 13 Februari 2016 kemaren, tepatnya H-1 valentine's day, aku ujian praktek bahasa arab. Gila, BAHASA ARAB TJOY! Oke alay sih, tapi aku bener-bener perlu share kegembiraanku saat itu wkwk. Jadi, ujian praktek dimulai pukul 07.00. Apa aja sih yang di uji in? Ujian praktek kali ini dikasih bacaan tak berharokat alias bacaan arab gundul/botak atau apalah serah kalian. Nah, setelah disuruh baca, langsung disuruh nge arti in sekalian tau fiil, fail, isim dari bacaan tersebut. GILA, ARAB GUNDUL TJOY! U MUST KNOW THAT I'M FROM JHS BEFORE! BAYANGIN AJA DEH, PEDEKATE AJA CUMA 3 TAHUN, TAPI AKU BISA LEWATIN RINTANGAN INI. WOW! IS IT RIGHT GAES? HAHA. 

Duh alay ya? Haha emang sih. Uprak paling aku perjuangin ya ini. Aku sampe privat 2 hari penuh buat nyiapin uprak mapel spesial ini. Walaupun sempet gabisa jawab tentang fiil nya, tapi so far so good lah buat anak alumni smp kaya aku. Bayangin dehh, aku lulusan TK, SD, SMP, trus aku sekarang melenceng ke MAN, yap ke madrasah, bukan sekolah umum lagi, first-time tau mapel agama ternyata ada lebih dari 1, baru tau kalo mapel agama ga cuma PAI aja, tapi ada Bahasa Arab, Quran Hadits, Fiqih, SKI dan Aqidah Akhlak. Bukankah hebat jika aku bisa melewati uprak mapel yang baru aku kenal di sekolah menengah atas? Yap, mungkin bagi kalian yang pernah mengenyam pendidikan madrasah, pasti kalian menganggap itu biasa aja. Tapi buat aku yang baru kali ini mengenyam pendidikan madrasah, ini sesuatu banget. Betapa aku bahagia bisa baca bacaan yang tanpa harokat, bisa nge arti in apa maksud bacaan. Hebat? Ngga terlalu. Tapi berkenang gaes. Masih inget banget uprak PAI ku saat SD itu cuma ngapalin 1 surat pendek, praktek wudlu dan sholat shubuh. Nah saat SMP, uprak PAI ku jugam hampir sama kaya saat di SD, cuma bedanya aku ga hap[alin surat pendek, tapi cuma baca Al-Qur'an aja. Baru ini ni, di MAN 3 Kediri, uprak agamanya macem-macem, mulai baca bacaan arab gundul sampai praktek sholat jenazah. HAHAHA IT'S SO HARD GAES. NOPE, IT'S BEGINNING, NOT ENDING! HAHA. Oiya, jangan lupa doain admin ya, mudah-mudahan lancar dan sukses terus ke depannya. Lancar uprak, UAM, UAMBN, SNMPTN, UN, SBMPTN, UTUL, TEST PTN, dsb. Mudah-mudahan admin bisa lanjut ke PTN yang admin inginkan. Aamiin.

Sekian ya gaes curhatan dari admin. Gausa panjang-panjang, ntar kalian malah ngantuk wkwk. See ya in the next post yaa :D

Release date :
September 16, 2015 (Indonesia)
Director : Baltasar Kormákur
Running time : 2h 30m
Box office : 203.4 million USD
Screenplay : Simon Beaufoy, William Nicholson, Mark Medoff, Lem Dobbs, Justin Isbell


Hello gaes! Hei hei kali ini admin bawa review film lagi loh :D Maklum lah admin lagi ga minat buat review novel, jadi balik lagi ke film aja ya. Tenang aja review film kali ini ga kalah bikin penasaran kok. Penasaran? Yuk langsung aja gaes ;)


Review
Film yang dibuat berdasarkan kisah nyata para pendaki gunung Everest di tahun 1996. Film yang dibuat dengan mengambil referensi dari film dokumenter berdurasi 44 menit berjudul sama yang dirilis pada tahun 1998, yang mana ada nama Liam Neeson di sana yang bertindak sebagai narrator. Selain itu, tulisan Jon Krakauer dalam bukunya "Into Thin Air: A Personal Account of the Mt. Everest Disaster" juga turut menjadi acuan dibuatnya film ini. FYI, sebelumnya di tahun 1997 pun sudah pernah dibuat TV Movie berdasarkan kisah yang sama (dengan judul yang sama dengan buku Jon Krakauer), sayangnya karena keterbatasan budget, film tersebut kurang banyak diminati penonton dan mendapatkan skor rendah di IMDb. TV Movie gitu loh (walaupun kualitasnya masih 5x lebih baik ketimbang FTV dalam negeri saat ini). Dan akhirnya, setelah teknologi makin canggih, Hollywood nyoba nge-remake filmnya dengan memboyong aktor-aktor papan atas dan mengangkatnya ke layar lebar. 

EVEREST (2015) menceritakan petualangan sekelompok pendaki gunung yang berjuang untuk mencapai puncak Everest di tahun 1996. Tim tersebut dipimpin oleh Rob Hall (Jason Clarke), seorang pemandu profesional yang mana terpaksa meninggalkan istrinya (Keira Knightley) yang sedang hamil tua demi mencari sesuap nasi dan popularitas, berhubung Jon Krakauer (Michael Kelly) seorang jurnalis terkenal, ikut serta dalam eksepedisi pendakian tersebut. Selain itu, ada tokoh Harold (Martin Henderson) yang terkenal karena pernah mencapai puncak K2, Yasuko Namba (Naoko Mori) yang pernah mendaki 6 puncak gunung tinggi dan berniat menjadikan Everest sebagai puncak ke-7 yang ia ditaklukannya, Beck Weathers (Josh Brolin) orang kaya yang sepertinya belum benar-benar berpengalaman dalam hal mendaki gunung, dan juga Doug Hansen (John Hawkes) yang melakukan pendakian demi membuat bangga anaknya. Sebetulnya masih banyak karakter lainnya, seperti Scott Fisher (Jake Gyllenhaal) pemandu dari agensi yang berbeda dengan Rob Hall, namun karena suatu situasi tak terduga, akhirnya mereka bekerja sama. Nah, perjalanan pendakian sebenarnya berlangsung aman dan terkontrol pada awalnya hingga menuju puncak, sayangnya alam berkata lain. Saat mereka semua berencana turun, terjadi badai salju dahsyat yang membuat mereka semua berjuang untuk bertahan hidup di tengah tebing salju terjal dengan suhu dingin yang membekukan tulang.

Jujur, kalo soal seru, masih lebih seru VERTICAL LIMIT (2000) yang lebih berasa bumbu-bumbu aksinya karena dorongan pace yang cepat dan backsound yang menghentak seru. Di sini, alurnya berlangsung ngalir dengan paceyang agak lambat, namun nggak kehilangan detail per adegannya. Kelebihannya, di sini setiap karakternya tergali dengan cukup baik. Seenggaknya sambil film berjalan, ada adegan-adegan yang terselip, menyoroti para pendaki dengan latar belakang mereka masing-masing yang bikin penonton sedikit demi sedikit merasakan simpati pada setiap tokoh-tokoh. So, apakah film ini seru? Daripada dibilang seru, di sini lebih dramatis. Yes, it's another type of drama, yang dikasih bumbu-bumbu suspense dan petualangan.

Adegan demi adegan yang disajikan juga terbilang realistis. Nggak perlu terlalu banyak bumbu penyedap, kondisi di Everest sendiri sudah cukup mencekam. Kematian demi kematian yang begitu cepat, tanpa ada persiapan apa-apa, tau-tau cuuusss modar, tapi nyeseknya berasa banget. Yes, masih terbayang adegan salah satu tokoh yang dibilangin untuk tunggu dalam diam karena udah keabisan oksigen dan mulai ga sadarkan diri, doi malah bangun sambil berusaha meraih-raih tali pengaman yang ujungnya gagal, terus malah serodotan menjemput ajal. Terus juga adegan salah seorang tokoh yang mendadak berasa kayak kepanasan (saking dingin menusuk udah sampe tulang), malah buka baju di tengah badai salju lalu, serodotan lagi menjemput ajal. Ugh... mata langsung membelalak ngeliat adegan-adegan kematian yang begitu cepat dan tak terduga. Walau terasa halus penyajian suspense-nya, film ini agak kurang cocok dinikmati sama kalian yang mungkin punya phobia tersendiri pada ketinggian dan bentangan luas gunung bersalju, atau mungkin juga bagi kalian yang berjantung lemah.

Film dibuka dengan adegan tim pendaki gunung yang nyaris sampai puncak. Tampaknya baik-baik saja dan nggak ada hal-hal yang mengancam kecuali langit yang terkesan bakal segera memuntahkan badai. Lalu, adegan flashback ke 6 minggu sebelumnya, ketika Rob Hall sedang bersiap-siap hendak naik pesawat menuju Khatmandu. Lewat adegan ini, penonton jadi tau kalo Rob menanggung tanggung jawab sangat tinggi karena selain harus membawa timnya naik dan turun Everest dengan aman, juga harus memenuhi janjinya untuk kembali pada sang istri yang tengah hamil tua. Yep, seems like foreshadowing sih di sini, tapi jujur, sepanjang perjalanan film, gue masih selalu berpikir positif soal ending dari Rob Hall ini (berhubung gue ngga pernah nonton atau tau kisah aslinya yang ditulis sama Jon Krakauer). Lalu, cuma jeda beberapa menit (setelah pengenalan karakter yang cukup singkat dan seperlunya), segera penonton dimanjakan dengan scenery porn yang detail dan indah sepanjang perjalanan menuju titik awal pendakian. 

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, film ini menjalani proses shooting awal benar-benar di Everest, tapi masih di daerah kaki gunungnya. Perjalanan menuju Camp terdekat itu masih asli. Sedangkan Camp 3 ke atas, yang mana setting-nya sudah semakin ekstrim dengan hamparan es di mana-mana, itu di-shooting di Inggris, tepatnya di dalam Pinewood Studio.Sedangkan printilan-printilan kecil penyempurna film diambil di banyak lokasi, mulai dari Iceland, Rome, dan banyak lagi tempat-tempat lainnya. But you know what? Penggambaran Everest di film ini bener-bener terlihat nyata,beautifully realistic. Gue sampe sempet ngebayangin kalo film ini bener-bener dibuat langsung di Everest secara keseluruhan, tapi itu masih mustahil untuk dilakukan saat ini.

Sebagai trivia bonus, sebelum Jason Clarke yang memerankan Rob Hall, Christian Bale sempet ditawarin, sayangnya dia drop. Mungkinkah dia takut dingin? Haha

Pada akhirnya, aku simpulkan kalo film ini well-made, dari segi scenery luar biasa indah dan mencekam secara bersamaan. Plot dengan alur lambat yang pas, penggalian karakter juga memuaskan, sampe bisa membangun rasa simpati sama tiap-tiap tokohnya, dan banyak hal lainnya yang luar biasa di film ini. Satu-satunya kekurangan mungkin karena sorotan adegan pada tokoh utama menjelang akhir cerita, yang seharusnya bisa jauh lebih dramatis lagi malah terasa agak flat. But, overall, I give this movie a standing applause.


Rating : PG-13 (for a suggestive comment)
Genre : Drama, Science Fiction & Fantasy
Directed By : Lee Toland Krieger
Written By : Salvador Paskowitz, Allison Burnett, J. Mills Goodloe
US Box Office : $42.6M
Runtime : 1 hr. 52 min.
Lionsgate - Official Site




Hei gaes! Kali ini admin ga review novel lagi, tapi kali ini admin bakal review film keren yang bikin kita berfikir 2 kali untuk berharap "keliatan muda selamanya". Karena selalu awet muda bukan berarti bahagia gaes haha. Oke langsung aja nih gaes, check it out!



Sinopsis

Mengisahkan tentang seorang wanita bernama Adaline Bowman (Blake Lively) yang lahir pada tanggal 1 Januari 1908. Hidupnya berjalan normal hingga memiliki suami dan seorang anak. Suatu malam di tahun 1935, ia mengalami sebuah kecelakaan mengerikan yang mengubah seluruh hidupnya.

Mobil yang ia kendarai masuk ke dalam sungai yang beku dan menewaskan dirinya. Namun sebuah keajaiban terjadi, kilatan petir menyambar mobilnya. Dan kilat tersebut memberi tiga dampak kepada Adaline. 

Pertama, kilatan tersebut membuat jantung Adaline kembali berdetak. Kedua, keadaan hipoksia yang ia alami menghilang dan membuatnya bernafas dua menit kemudian. Dan yang ketiga, Adaline untuk seterusnya akan kebal dari kerusakan akibat perkembangan zaman. Dimana Adaline tidak akan mengalami penuaan. 

Sejak peristiwa itu, Adaline memutuskan untuk merahasiakannya dari siapapun. Ia mengalami berbagai petualangan di seluruh abad ke-20. Adaline sudah bertahun-tahun hidup menyendiri dan sekali-kali bertemu dengan anak perempuannya yang semakin tua (Ellen Burstyn). 


Suatu ketika ia tak sengaja bertemu dengan pria bernama Ellis (Michiel Huisman). Hal yang mengejutkan menimpa Adaline, karena ayah Ellis yang bernama William (Harrison Ford) adalah kekasih Adaline pada tahun 1960-an. Kecurigaan William mulai terbukti ketika ia melihat bekas luka yang sama pada tangan Adaline di masa lalu. 

Karena itu, meski ia cinta tapi Adaline berusaha pergi meninggalkan Ellis. Ditengah perjalanan ia kembali mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya hampir tewas. Dan defibrilator yang mengejutkan jantung Adaline membuat kelenturan dan struktur gen-nya kembali normal. Yang membuatnya bisa melanjutkan kembali proses alami penuaan dan hidup bersama Ellis hingga tua bersama.


Review 

Kisah seorang manusia yang tidak mengalami penuaan pernah saya tonton dalam film yang dibintangi ChloëMoretz, Let Me In (2010). Karakter dalam komik Marvel, Wolverine, juga mengalami hal yang sama. Tapi, penceritaan drama romansa Age of Adaline ini tentu tidak bisa disamakan dengan film superhero tersebut. Konsepnya sama, manusia yang tidak bisa menua, kemudian terjebak cinta dengan sosok yang sangat jauh lebih muda. Terdengar klise ?. Boleh saja jika berfikir seperti demikian, tapi Age of Adaline tidak lantas dikemas dengan cheesy. Meski fiksi ilmiahnya (atau fantasi, mungkin) terasa lemah, lika-liku kisah romansanya lah yang menjadi kekuatannya.

Adaline Bowman (Blake Lively) yang lahir di tahun 1908, awalnya adalah wanita normal, menikah, dan memiliki anak. Suatu ketika di usianya yang menginjak 29 tahun, ia mengalami kecelakaan dan diikuti peristiwa misterius yang akhirnya membuat perkembangan fisiknya terhenti alias tidak mengalami penuaan. Kondisi yang dialaminya menjadikan ia dikejar-kejar oleh pihak FBI dan keberadaannya pun terancam. 

Adaline lalu bersumpah untuk terus berpindah-pindah tempat dan mengubah nama serta penampilannya setiap 10 tahun. Putri semata wayangnya yang ia tinggal, Flemming (Ellen Burstyn) terus menua, tapi Adaline tetap menyempatkan diri untuk saling bertemu. Sejak saat itu, sudah dua kali Adaline menjalin hubungan cinta, ketika di tahun 60-an meski akhirnya kandas, dan di tahun 2014 dengan seorang pria yang usianya sangat jauh di bawahnya, Ellis Jones (Michiel Huisman). 

Premisnya sangat standard, sesuai dengan tagline yang tertulis di posternya. The Age of Adaline lebih seperti dongeng-dongeng yang jamak kita dengar sejak kecil, daripada drama romansa yang penuh eksplorasi dari karakter maupun alur ceritanya. Penjelasan gamblang bagaimana Adaline memiliki anti-agingmelalui narator terasa seperti disaster sci-fi daripada menyimpan misteri rapat-rapat tak terjawab seperti yang ada di 17 Again (2009), yang secara presentasi lebih bagus menurut saya. Bagian yang sudah muncul sejak menit-menit awal itu cukup untuk mengurangi atensi saya demi menginginkan drama yang lebih ‘dalam’ dan menyentuh. Tapi setelah kemudian film berjalan makin ke tengah, sosok pria yang sudah disiapkan sebagai penakluk hati Adaline muncul, ada harapan baru untuk terus mengikutinya, meskipun masih banyak sekali kekurangan berupa alur yang mudah tertebak hingga menit akhir. Konflik batin yang dialami Adaline karena mencintai pria yang sangat jauh lebih muda darinya sebagai bagian dari lika-liku romansanya, lumayan menutupi kekurangan tersebut.

Sesuai sumpahnya, Adaline terus berlari. Tidak hanya berlari dari keberadaan saja, melainkan juga dari perasaannya pada pria yang selalu ingin menemani dalam kesepiannya. Penolakan-penolakan kecil dari Adaline sangat kentara ketika para pria mencoba mendekatinya, tidak terkecuali pada Ellis. Pengalaman kandasnya cinta dengan pria di tahun 60-an yang sengaja ia tinggalkan, merupakan alasan utama untuk tidak menyakiti pria-pria lain yang mungkin ingin merajut cinta bersamanya. Bisa ditebak, Ellis lah pria yang akhirnya menjadi pelabuhan hati berikutnya. Tentunya, bukan hal mudah bagi Ellis untuk menaklukkan hati seorang nenek berusia lebih dari seratus tahun ini.

Blake Lively berakting bagus sekali dalam menghidupkan karakter Adaline yang sangat dewasa dengan berbagai pengalaman yang ia dapatkan serta berwawasan luas, meski terjebak dalam tubuh mudanya. Dari sini, penonton bisa memahami bagaimana sosok Adaline yang mungkin oleh banyak orang membuat iri karena anti-aging-nya, ternyata adalah seorang wanita kesepian yang harus jauh dari anak dan perasaan bersalahnya karena terus lari dan membohongi orang-orang baik di sekitarnya. Tidak sejalan dengan Adaline, sosok Ellis di sini justru dibuat dengan sangat standard sekali dan tidak ada yang spesial darinya. Tanpa memberikan sosok kompetitor, penonton sudah dapat menebak bahwa siapa lagi kalau bukan Ellis yang akan mendapatkan Adaline. 

Kemunculan aktor Harrison Ford di sini juga cukup untuk memberikan kesegaran dengan melihatnya memainkan karakter yang sangat jauh berbeda dengan karakter ikonik yang selama ini telah menempel padanya. Alih-alih memberikan twist mengejutkan, kemunculan Harrison Ford di sini justru begitu mudahnya tertebak sebelum alur menjelaskan siapa dirinya. Lagi-lagi, bagian predictable tersebut secara sekilas kembali menurunkan atensi saya untuk berharap hal yang lebih memuaskan lagi berikutnya. Akting Harrison Ford di sini memang sangat bagus dan karismatik sebagai pria tua yang pernah tersakiti di masa mudanya, tapi juga sempat kendor di salah satu momennya. 

The Age of Adaline memiliki kelebihan berupa interaksi antar karakternya yang sanggup untuk mengaduk-aduk emosi para penontonnya, mulai dari cinta, rindu, hingga kekecewaan. Tanpa menggurui, dari kisah yang dialami oleh Adaline, dapat diambil pesan bahwa tiadalah yang lebih indah daripada terus bersama dengan seseorang yang dicintai hingga menuanya usia. Setidaknya, itulah yang merupakan pegangan yang selalu digunakan oleh Adaline, meski alasan itu pulalah yang terus membuatnya menjauhi pria-pria yang mencoba mendekatinya. Bukanlah film yang buruk dengan segala kekurangannya. Tapi daripada disebut sebagai drama romansa untuk kalangan remaja - dewasa, The Age of Adaline sepertinya lebih cocok sebagai fairytale untuk anak-anak.
Judul Novel : SMASH!
Penulis : Nonier (Noni Eko Rahayu)
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tempat/tahun : Jakarata, Maret 2008
Tebal : 248 halaman: 20 cm



Hai gaes admin balik lagi nih. Oke kali ini admin bakal kasih review novel Indonesia. Yap, jarang-jarang kan admin up novel Indonesia wkwk. Admin ngerasa mungkin salah satu dari kalian berharap aku post review + sinopsis novel Indonesia, makanya admin bakal share novel Indonesia kali ini. Oke guys, check it out!


Sinopsis
Dalam pertandingan voli ataupun naklukin cewek, Aryo pantang nyerah. Gelar pemain andalan sekaligus playboy melekat erat dalam dirinya. Kalau macarin cewek, Aryo paling cuma tahan dua bulan. Setelah itu... bosen dan cari lagi yang baru! Tapi di rumah Aryo kalah dari Ardi. Kakaknya ini ulet berbisnis dan selalu macarin cewek-cewek cakep. Makanya Aryo bingung waktu Ardi mau aja dijodohin sama Rayana, anak kelas 3 SMA yang cakepnya sedeng-sedeng aja. Aryo merasa Rayana nggak selevel dengan Ardi. Aryo juga curiga Rayana cewek matre. Aryo berniat menguji kesetiaan sang calon kakak ipar yang ternyata adik kelasnya waktu di SMA itu. Dia sengaja menggoda Rayana supaya cewek itu jatuh cinta padanya. Rayana yang pendiam namun bukan cewek melempem ternyata membuat dunia Aryo jungkirbalik. Dan... kali ini Aryo kena batunya!


Review
Pada jaman globalisasi ini, perjodohan sudah jarang dilakukan. Tapi, ternyata masih ada saja perjodohan yang dilakukan dalam masyarakat. Hari gini masih dijodohin, kayak Siti Nurbaya aja. Begitulah kisah yang disajikan oleh Nonier, penulis novel “SMASH!” ini. Ia lahir di Blora, Jawa Tengah dan saat ini berprofesi sebagai PNS di Departemen Kehutanan, Manggala Wana Bakti. Cerpen-cerpennya banyak pernah dimuat di suatu majalah. Baginya, menulis itu menyenangkan.

Novel ini bercerita tentang kisah Rayana yang dijodohkan dengan Ardi. Hal ini dilakukan Ardi demi untuk membahagiakan orang tuanya. Namun, Aryo yang tidak lain adik Ardi sengaja menggoda calon kakaknya itu. Dalam pertandingan voli ataupun nakhlukin cewek, Aryo pantang menyerah. Gelar pemain andalan sekalihus play boy melekat pada dirinya. Kalau macarin cewek Aryo paling cuma tahan dua bulan. Setelah itu, bosan dan cari yang baru?

Tapi di rumah Aryo kalah dari Ardi. Masnya ini ulet berbisnis dan selalu macarin cewek-cewek cakep. Makannya Aryo bingung juga waktu Ardi mau aja dijodohin sama Rayana, anak kelas 3 SMA yang cakepnya sedang-sedang saja.

Aryo merasa Rayana nggak selevel dengan Ardi. Aryo juga curiga Rayana cewek matre. Aryo berniat menguji kesetiaan sang calon kakak ipar yang ternyata adik kelasnya waktu SMA itu. Dia sengaja menggoda Rayana supaya cewek itu jatuh cinta padanya.

Rayana yang pendiam namun bukan cewek melempem ternyata membuat dunia Aryo jungkir-balik. Dan kali ini Aryo kena batunya!

Saat membaca novel ini, rasanya seperti masuk ke dalam masa-masa remaja yang menyenangkan. Gaya bahasa yang digunakan juga mudah dimengerti. Banyak kata-kata yang digunakan merupakan bahasa gaul yang digunakan sehari-hari. Selain itu, banyak kalimat- kalimat yang mengundang tawa sehingga waktu mambaca novel yang berjudul smash ini, kita bias tertawa sediri. Alur novel yang disajikan sungguh menarik karena banyak masalah yang disajikan oleh penulisnya.

Namun, kertas yang digunakan untuk mencetak novel smash adalah kertas buram. Jadi, halaman novel mudah robek . selain itu, akhir dari novel ini kurang begitu jelas penggambarannya.
Novel SMASH! paling cocok untuk dibaca para remaja. Selain itu, kisah yang disajikan juga menarik dan memiliki alur cerita yang bagus. Namun, akhir penyelesaian pada novel ini masih mengambang. Jadi, Novel ini layak untuk dibaca.

Oke guys, itu sekilas revie dan sinopsis nya. Bagi kalian yang penasaran sama full of parts nya, langsung aja deh capcus ke toko buku terdekat dan tambahin koleksi novel kalian, See you in the next post guys! :D